Kiat Sukses Arnold Schwarzenegger Mengubah Nasib

Siapa yang tidak pernah mendengar nama Arnold Schwarzenegger. Namanya melejit ketika dinobatkan sebagai Mr. Olympia termuda pada tahun 1970. Pensiun dari dunia binaraga, nama Arnold kembali menggebrak dunia lewat film Conan The Barbarian yang dibintanginya pada tahun 1980 dan terakhir sebagai gubernur California pada tahun 2003.

Bagi saya Arnold adalah tokoh sukses yang unik. Unik dalam arti kita tidak bisa mengkategorikannya berdasarkan spesialisasi bidang yang digeluti. Misalnya, nama JK Rowling dan Dan Brown identik dengan kesuksesannya sebagai novelis, Albert Einstein dengan ilmu fisika, Pepih Nugraha dengan jurnalisme warga dan seterusnya.

Arnold berbeda dengan mereka. Dia memiliki kelas tersendiri. Yang membuatnya unik sebagai seorang Arnold Schwarzenegger karena dia sukses menorehkan nama dalam tiga bidang yang tidak berhubungan satu sama lain: binaraga, Hollywood dan politik.

Tulisan ini menyarikan pelajaran hidup Arnold dalam perjalanannya merubah nasib dari seorang anak miskin asal desa kecil di Austria menjadi seorang tokoh dunia lewat beberapa cuplikan hidupnya. Sumber tulisan saya kumpulkan dari berbagai wawancara, pidato yang tersebar di youtube dan autobiografi Arnold sendiri, Total Recall: My Unbelievably True Life Story.

Sebagai manusia tentu saja Arnold jauh dari sempurna. Namun saya harap pembaca dapat menarik pelajaran hidup dari tokoh luar biasa ini.

Kesulitan Hidup Sebagai Pendorong untuk Maju

Arnold lahir dalam keluarga miskin di desa Thal ketika Austria dalam okupasi pasukan sekutu pada tahun 1947. Ayahnya, Gustav Schwarzenegger, berprofesi sebagai polisi mendidik Arnold dan adiknya dengan keras. Seperti masyarakat Austria pada saat itu, Gustav mendidik anaknya dengan kekerasan fisik untuk menanamkan disiplin. Dicambuk dengan tali pinggang, dijambak dan ditampar mewarnai masa kecil Arnold.

Usaha sekeras apapun rasanya tidak pernah cukup. Gustav berpendapat bahwa selalu ada ruang untuk kemajuan. Bila mental kebanyakan anak-anak seusia Arnold menciut dengan pola pengasuhan tangan besi, Arnold justru semakin meneguhkan hatinya sekeras besi untuk keluar dari kemiskinan. Terinspirasi oleh binaragawan Amerika seperti Reg Park dan Steve Reeves, Arnold memutuskan menjadi binaragawan tersukses sebagai tiket menuju Amerika.

Binaraga termasuk olah raga asing pada saat itu di Austria. Setiap kali Arnold berlatih angkat besi, Gustav merasa Arnold hanya buang waktu saja. “Buat apa angkat besi, kenapa tidak mengerjakan hal yang lebih berguna, keluar sana tebang kayu”, kenang Arnold.

Masuk wajib militer tidak melunturkan rejim latihan Arnold. Di sela-sela latihan militer, Arnold tetap menyempatkan diri latihan angkat beban. Komitmen Arnold dibayar dengan mendekam 1 minggu di penjara militer akibat tetap nekat ikut kompetisi Junior Mr. Europe (dan menang!) meskipun ijin absennya ditolak.

Mengenang masa kecilnya, Arnold sempat berpikir apakah jalan hidupnya akan berbeda seandainya Ayahnya bersikap lebih lembut. Arnold kecil pernah mengenakan seragam kerja Ayahnya di depan cermin, membayangkan dirinya mengikuti jejak Ayahnya menjadi seorang polisi. Apa yang terlihat sebagai kemalangan telah menjadikan Arnold sebagai sosok bertekad baja di kemudian hari.

Menyulap Kekurangan Menjadi Kelebihan

Menginjakkan kaki pertama kali di Amerika, bahasa Inggris Arnold jauh dari lumayan. Ketika masih berprofesi sebagai binaragawan hal ini tidak terlalu menjadi masalah. ‘Kekurangan’ ini mulai menjadi isu serius ketika Arnold memutuskan menjadi bintang besar di Hollywood. Arnold kesulitan menemukan agen yang sanggup melihat potensinya sebagai bintang besar.

Agen besar seperti Morris dan International Creative Management memberikan berbagai alasan mengapa Arnold sebaiknya melupakan mimpi menembus Hollywood. Aksen, bentuk tubuh hingga nama belakangnya dinilai terlalu aneh, tidak akan nyambung dengan selera pasar menurut mereka. Bahkan produser film ternama saat itu, Dino De Laurentiis, sempat menyebut Arnold seorang Nazi karena aksen Jerman nya yang kental. Film paling pertama yang dimainkan berjudul Hercules in New York harus di dubbing karena aksennya yang kelewat kental, bahkan nama belakangnya pun ditulis menjadi ‘Arnold Strong’ agar lebih bisa diterima oleh pasar.

Layaknya Austrian Oak, Arnold tidak bergeming mendengar semua itu. Arnold mengambil kelas bahasa Inggris dan pengurangan aksen. Bahasa Jerman tidak mengenal suara w, sehingga menyulitkan Arnold melafalkan fw dan v bersamaan. Bahasa Jerman juga tidak mengenal s dan z seperti halnya dalam bahasa Inggris.

Demi menghaluskan aksennya, Arnold berlatih ribuan kali mengucapkan kalimat: “A fine wine grows on the vine” dan “the sink is made of zinc”. Hingga hari ini aksen Arnold masih terasa. Tapi justru berkat aksennya frasa  “I’ll be back” terdengar lebih seperti robot. Aksennya menjadi nilai plus dalam perannya sebagai cyborg dalam film Terminator. Tubuhnya yang tadinya dinilai kelewat kekar untuk main film akhirnya mendapat tempat tersendiri ketika studio mencari pemeran tokoh Conan The Barbarian. Sutradara John Millius berkomentar, seandainya tidak ada Arnold maka mereka harus melatih aktor pemeran Conan agar kekar seperti Arnold.

Jangan Mengeluh Gagal Bila Tidak Bekerja Keras

Dalam setiap usaha yang ditekuni, Arnold selalu siap menerima kegagalan dengan syarat dia berusaha sebaik-baiknya. Pelajaran ini pertama kali meresap ketika dia kalah kompetisi Mr. Universe di Miami dari Frank Zane yang bertubuh lebih kecil dan pendek.

Arnold baru saja menggondol titel Mr. Universe di London pada tahun 1968. Tubuhnya sebenarnya sama kekarnya ketika dia berada di London. Tapi karena menunggu visa selama satu minggu dan tidak banyak berlatih, tubuhnya menjadi lebih berat dari ideal. Akibatnya, otot Arnold dinilai kurang memiliki definisi saat berpose di depan juri. Dan lagi kulit Frank Zane berwarna coklat terjemur matahari (tan) sangat kontras dengan kulit Arnold yang pucat sehingga juri memutuskan Frank Zane sebagai pemenang.

Esok harinya di gym, Arnold terus memikirkan kekalahannya. Dua tahun sebelumnya, Arnold pernah kalah dari Chet Yorton di London pada tahun 1966. Tapi sama sekali tidak ada rasa sakit hati karena saat itu Arnold sudah melakukan segalanya untuk menang. Tapi kekalahan kali ini berbeda. Arnold merasa dia seharusnya lebih disiplin mengetatkan diet 1 minggu menjelang kompetisi, dia seharusnya bisa berlatih lebih banyak, berlatih pose dan seterusnya sampai merasa benar-benar siap. Tidak ada yang menghalanginya, mengapa dari awal dia tidak melakukan itu semua? Arnold menyimpulkan bahwa memenangkan titel Mr. Universe di London telah membuatnya takabur.

Memikirkan ini semua membuatnya marah. Sejak itu Arnold bersumpah tidak akan pernah lagi kalah hanya karena kurang kerja keras. Sekarang saatnya bersikap profesional. Mulai saat itu seandainya Arnold kalah , setidaknya dia bisa keluar dengan tersenyum lebar karena dia sudah melakukan segalanya untuk menang.

Berbekal semangat baru, Arnold berlatih jauh lebih keras. Dia geli dengan sikap beberapa binaragawan yang mengeluh betapa beratnya hidup mereka karena harus mengangkat besi untuk makan. Bagi Arnold, semakin sering dan berat beban yang diangkat, semakin dekat dia mendekati impiannya . Ketika mengangkat dumbel Arnold membanyangkan dirinya sedang mengangkat tropi kemenangan. Arnold juga menikmati rasa sakit pada otot-ototnya pada 3-4 repetisi terakhir dimana terjadi perobekan serabut otot.

Menurut Arnold, rasa sakit itulah yang membedakan antara seorang juara dengan pecundang. Seorang juara berani menghadapi rasa sakit dan terus melanjutkan perjuangan tidak peduli apapun yang terjadi.

Memanfaatkan Waktu Sebaik-baiknya

Dalam satu sesi tanya jawab di University of California dalam kapasitasnya sebagai seorang gubernur, seorang murid mengeluh betapa sulit hidupnya sejak krisis budget menghantam California. Uang kuliahnya naik dua kali lipat yang dinilai terlalu tinggi dan sekarang dia butuh lebih banyak bantuan keuangan dari pemerintah. Setelah menyampaikan simpatinya, Arnold tanya balik:

AS: “Maksudmu apa terlalu tinggi?”

M: “Maksudnya sekarang saya harus bekerja paruh waktu.”

AS: “Apa yang salah dengan itu?”

M: “Saya harus belajar!”

Selanjutnya Arnold bersama murid tersebut menghitung kegiatannya dalam sehari. Setelah selesai menghitung waktu si murid belajar, bekerja, pulang-pergi kerja & kuliah dan masuk kelas yang totalnya 6 jam sehari. Arnold tanya lanjut: “jadi apa yang kamu lakukan dengan sisa waktumu?”. Mendengar ini si murid kembali bingung. Melihat kebingungannya, Arnold langsung menjelaskan bahwa kita semua punya 24 jam sehari dan si murid hanya sanggup menuturkan 6 jam kegiatannya dalam satu hari, jadi sisa waktu 18 jam kemana saja? Mengapa tidak dimanfaatkan untuk bekerja lebih banyak, belajar dan melakukan kegiatan berguna lainnya? Daripada hanya menyia-nyiakan hidup?

Mendengar kalimat terakhir ini seisi kelas shock. Si murid langsung protes: “saya tidak menyia-nyiakan hidup saya!”.

Sebagai perbandingan, ketika masih sekolah di Santa Monica College, Arnold berlatih angkat besi 5 jam sehari, menghadiri kelas akting 4 jam sehari, bekerja di bisnis konstruksi bangunan selama beberapa jam, masih menghadiri kuliah dan mengerjakan PR pula. Tidak jarang Arnold bangun pagi jam 6 dan tidur jam 12 malam. Kehebatan Arnold dalam memanfaatkan waktu di tengah kesempitan memang legendaris. Kalau orang biasanya mengosongkan jadwal kerja 2-3 hari menjelang pernikahan, Arnold masih sempat-sempatnya syuting film Predator di tengah hutan Mexico kurang dari 48 jam menjelang pernikahannya.

Dalam perjalanan merubah nasib, kita kadang tergoda menyalahkan lingkungan keluarga, norma sosial, pemerintah, ekspektasi orang-orang sekitar, pendidikan, sebagai alasan mengapa kita tidak bisa maju. Secara intelektual kita tahu bersikap reaktif itu bodoh, namun kadang kita masih suka malas, mengeluh, diam-diam berharap nasib akan berubah dengan sendirinya tanpa perlu bersusah payah.

Kita harus ingat bahwa 1,000 alasan cerdas tidak pernah bisa menggantikan 1 tindakan nyata dalam merubah nasib.

Dalam perjalanannya merubah nasib, Arnold mudah saja menyerah dengan berbagai macam alasan. Orang sekitarnya pun bisa maklum kalau dia berhenti, mengingat latar belakangnya yang kurang beruntung. Bila ditilik lebih dalam, tampaknya awal karir Arnold sebagai binaragawan memberinya pelajaran hidup mendalam dalam menerabas segala rintangan seperti yang tersirat dalam ucapannya berikut:

“What we face may look insurmountable. But I learned something from all those years of training and competing. I learned something from all those sets and reps when I didn’t think I could lift another ounce of weight. What I learned is that we are always stronger than we know” –

Apa yang kita hadapi mungkin tampak sulit diatasi. Tapi Saya belajar sesuatu dari latihan dan kompetisi selama bertahun-tahun. Saya belajar dari semua set dan repetisi ketika saya merasa tidak sanggup lagi mengangkat ons beban tambahan. Apa yang saya pelajari bahwa kita selalu lebih kuat dari yang kita tahu.

Sebagian dari kita memiliki latar belakang yang lebih beruntung dari Arnold. Ambisi hidup kita mungkin juga lebih sederhana dan itu sah-sah saja. Arnold telah menunjukkan pada kita apa yang dapat dicapai dengan tekad baja, kerja keras, menyulap kekurangan menjadi kelebihan dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Seandainya kita menerapkan pelajaran hidup dari Arnold, kira-kira kemanakah hidup akan membawa kita pergi?

Oleh : Hendra Makgawinata

>>> Silahkan Share artikel diatas, dengan mengklik aplikasi di bawah ini ::

Mungkin Anda Menyukai